- Kontak Kami  |  SiteMap  |  WebMail -
Indonesian English French German Italian Japanese Malay Romanian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian

Sabtu, 08 Oktober 2011

Menggagas Kembali Usulan CA Faruhumpenai dan 3 Danau di Kab. Luwu Timur menjadi Taman Nasional

Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan mengelola 15 kawasan konservasi dengan luas total sekitar 200.000 Ha termasuk diantaranya 4 kawasan konservasi di Kab. Luwu Timur yaitu CA. Faruhumpenai, dan 3 taman wisata alam yaitu TWA Danau Matano, TWA Danau Mahalona dan TWA Danau Towuti. Keempat kawasan konservasi tersebut lokasinya berdekatan serta memiliki nilai konservasi keanekaragaman hayati serta potensi jasa lingkungan khususnya wisata alam  yang sangat tinggi, sehingga dalam upaya meningkatkan pengelolaannya perlu dipertimbangkan untuk dikelola dalam satu unit pengelolaan guna menjamin kelestarian dan pemanfaatannya dengan lestari.

KEANEKARAGAMAN HAYATI  CAGAR ALAM FARUHUMPENAI DAN TWA DANAU MATANO, DANAU MAHALONA, DANAU TOWUTI

Cagar Alam Faruhumpenai, TWA Danau Matano, TWA Danau Mahalona dan TWA Danau Towuti secara administratif terletak di Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Kawasan konservasi tersebut ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.274/Kpts/ Um/4/1979 tanggal 24 April  1979 tentang Penunjukan sebagian Kompleks Hutan Danau Matano dan Danau Towuti beserta Daerah Perairannya seluas sekitar 90.000 Ha sebagai Hutan Suaka Alam cq. Cagar Alam Faruhumpenai dan sebagian lagi seluas sekitar 95.000 Ha sebagai Hutan Wisata cq. Taman Wisata terdiri dari TWA Danau Matano (25.000 Ha), TWA Danau Mahalona (5.000 Ha) dan TWA Danau Towuti (65.000 Ha).

CA Faruhumpenai merupakan  perwakilan tipe ekosistem hutan pegunungan dataran rendah yang banyak dialiri sungai-sungai besar seperti Sungai Kalaena, S.Angkona, S.Wailao, dan S. Dandawasu. Topografinya landai hingga berbukit-bukit yang curam dengan kemiringan 30% - 80% serta berada pada ketinggian antara 545 – 1832 m.dpl.  Cagar Alam Faruhumpenai kaya akan berbagai jenis tumbuhan seperti  Diospyros celebica, Callophyllum sp, Santinia sp, Agathis sp, Palaquium sp, dan Nephenthes sp.   Esti Munawaroh dkk  (LIPI)  dalam surveynya pada tahun 2001 menemukan sekitar 95 jenis anggrek di CA Faruhumpenai dimana diantaranya 4 jenis anggrek koleksi baru, 1 jenis anggrek langka  dan 1 jenis anggrek endemik.  Jenis anggrek koleksi baru yang berhasil ditemukan oleh LIPI tersebut yaitu Peristylus goodyeroides, Goodyera sp (bunga putih), Goodyera sp.(daun hijau), dan Dendrobium sp. Jenis anggrek langka yang berhasil ditemukan di CA Faruhumpenai adalah Phalaenopsis amboinensis yang berada pada ketinggian 920 - 1100m.dpl.  Sedangkan jenis anggrek endemik adalah  Coelogyne selebensis yang ditemukan pada ketinggian 400 - 500 m.dpl.

CA Faruhumpenai juga merupakan habitat berbagai jenis satwa liar termasuk jenis-jenis yang langka dan dilindungi seperti Anoa Gunung (Bubalus quarlesi), burung raja udang (Halcyon cloris), burung Rangkong, burung Gosong, Rusa Timor (Cervus timorensis), Kuskus, dan Kera Hitam (Macaca tonkeana) (sesuai  SK Menteri Pertanian No.274/Kpts/Um/4/1979).

Berbeda dengan CA Faruhumpenai  yang terdiri dari ekosistem terrestrial, ekosistem TWA Danau Matano, Mahalona dan Towuti  memiliki karakteristik ekosistem danau  yang unik, sehingga merupakan kombinasi variasi ekosistem yang sangat menarik baik dari segi konservasi biologi maupun estetika. TWA Danau Matano merupakan danau  tektonik  dengan  air  sangat jernih dengan  kecerahan air mencapai 23 m dan  kedalaman mencapai   590 m sehingga   menjadi danau terdalam di Asia Tenggara atau  terdalam kedelapan  di dunia.   Sedangkan Danau Towuti dengan kedalaman 203 m merupakan danau terluas kedua di Indonesia setelah Danau Toba. Danau  tersebut  terbentuk akibat turunnya permukaan bumi sebagai akibat pergeseran/patahan lapisan bumi sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terbentuk menjadi danau.

Mengingat ekosistem danaunya yang khas, baik Danau Matano dan Danau Matano dihuni oleh berbagai jenis ikan yang unik pula.   Bambang Suroso, dkk (Universitas Sam Ratulangi) menyatakan bahwa di Danau Towuti dapat dijumpai 25 jenis ikan air tawar, diantaranya 13 jenis merupakan endemik Danau Towuti seperti Ikan Buttini (Glossogobius matanensis, Glossogobius intermedius), Paratherina bonti, Paratherina celebensis, Tominanga sanguicando, dan lain sebagainya.  Disamping itu juga dapat ditemukan Buaya Muara (Crocodylus porosus), burung Pecuk Ular (Anhinga melanogaster) dan burung Raja Udang (Halcyon sp).

Sebagaimana halnya di Danau Towuti,   Badan Riset Kelautan dan Perikanan  (2007) menyimpulkan Danau Matano juga mempunyai tingkat endemisitas yang tinggi untuk jenis ikan air tawar.  Tercatat sekitar 11 jenis ikan endemik yang hidup di Danau Matano terdiri dari  7 jenis dari Genus Telmatherina, 1 jenis Glossogobius matanensis (ikan buttini), 1 jenis Mugilogobius latifrons, 1 jenis Demogenys weberi, 1 jenis Oryzias matanensis, dan jenis Synbranchus spp.

PERMASALAHAN PENGELOLAAN

Permasalahan utama dalam pengelolaan CA Faruhumpenai adalah perambahan, walaupun belum begitu luas dibandingkan keseluruhan luas total kawasan.  Namun perambahan ini perlu segera diatasi sebelum berkembang semakin luas, sebagaimana banyak terjadi di kawasan konservasi lainnya di Indonesia.  Sekitar  1.553 Ha kawasan CA Faruhumpenai telah dirambah oleh masyarakat sekitar kawasan dan sebagian oleh para pendatang yang membuka kebun dan sawah mulai tahun 1990-1999 (laporan Seksi Konservasi Wilayah II Malili, 2010).  Sebagian besar perambah tersebut tidak memilki alas titel hak, hanya sebagian kecil (3 Ha) di daerah Dandawasu yang memiliki alas titel hak, itu pun hanya berupa kewajiban pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).  Upaya yang sudah dilakukan oleh petugas BBKSDA Sulsel untuk mengatasi perambahan tersebut tidak hanya bersifat persuasif dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat, tetapi juga telah berupaya untuk melakukan upaya penegakan hukum dengan menahan perambah.  Namun upaya ini belum sepenuhnya mendapat dukungan dari para pihak terkait, sehingga kegiatan perambahan masih terus berlangsung.

Permasalahan lainnya di CA Faruhumpenai adalah pemukiman dalam kawasan, penebangan liar  dan pengambilan rotan. Pemukiman dalam kawasan muncul sejak tahun 1982 melibatkan 667 KK. Sedangkan penebangan liar dilakukan oleh  masyarakat dalam skala kecil sekitar  1-3 batang pohon.

Permasalahan dalam pengelolaan TWA Danau Matano meliputi tumpang tindih kawasan antara areal TWA dengan areal kontrak karya PT. Inco Tbk dengan luas 139,8 Ha, perambahan kawasan untuk kebun oleh masyarakat seluas  296 Ha, pembangunan rumah di pinggir danau oleh 436 KK sejak tahun 1980 dan sebagian telah bersertifikat.

TWA Danau Towuti   juga terancam oleh berbagai aktivitas masyarakat di sekitarnya.  Adapun permasalahan di TWA Danau Towuti meliputi adanya pemukiman masyarakat sejumlah 50 KK yang dilakukan sejak tahun 1980 dimana sebagian telah bersertifikat  serta adanya limbah penggergajian kayu/ sawmill yang  mencemari ekosistem Danau Towuti.  Masalah limbah sawmill ini telah menjadi perhatian berbagai pihak dan telah  dipertimbangkan untuk dipindahkan ke tempat lain.

PEMANFAATAN KAWASAN

CA Faruhumpenai  yang merupakan bagian dari wilayah Wallacea memiliki  ekosistem hutan yang relatif masih utuh dan keanekaragaman hayati yang khas, cocok untuk dikembangkan sebagai pusat riset biologi ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati Sulawesi Selatan.  Dengan pengembangan riset diharapkan dapat mengungkap lebih banyak informasi tentang kekayaan hayati di dalamnya yang sangat diperlukan bagi kepentingan  pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati tersebut secara lestari. Beberapa kegiatan penelitian sebelumnya sudah dilakukan di CA Faruhumpenai seperti penelitian tentang anggrek oleh LIPI dan kayu hitam yang dilakukan Badan Litbang Kehutanan Makassar.

Berbeda dengan CA Faruhumpenai yang penting dari segi riset, TWA Danau Matano dan Danau Towuti sesuai dengan karakteristiknya yang memilki panorama alam yang sangat indah, telah lama menjadi obyek kunjungan wisatawan lokal yang datang untuk berekreasi  seperti berenang, diving, ski air, canoeing, atau sekedar menikmati keindahan danau dan berjalan-jalan di pasir putih. Beberapa lokasi di TWA  Danau Matano yang menjadi pusat kunjungan diantaranya Pantai Ide, Pantai Kupu-Kupu, Gua Air dan Pantai Old Camp. Pada waktu-waktu tertentu, seperti peringatan hari kemerdekaan, di Pantai Ide diselenggarakan berbagai aktivitas budaya dan olahraga tradisional diantaranya adalah kegiatan tradisional meopadi yaitu menangkap ikan opudi, lomba renang rakyat atau lomba dayung tradisional.

Disamping sebagai obyek wisata alam, potensi jasa lingkungan lainnya adalah pemanfaatan air  dari TWA Danau Matano yang dimanfaatkan sebagai penggerak dua PLTA milik PT. Inco yaitu PLTA Larona dan PLTA Balambano. PT. Inco sedang membangun PLTA yang ketiga yang sumber energinya juga berasal dari Danau Matano yaitu PLTA Karebe.

Mempertimbangkan  berbagai keistimewaan yang dimilikinya tersebut, banyak pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mengharapkan agar TWA Danau Matano dapat diusulkan menjadi World Heritage.

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN

Mengingat potensi keanekaragaman hayatinya yang relatif masih utuh serta memiliki endemisitas yang tinggi, keindahan panorama alamnya, serta potensi jasa lingkungannya termasuk potensi air yang berperan vital bagi kehidupan masyarakat maupun operasional PT Inco, sementara itu permasalahan yang mengancam kelestarian kawasan konservasi tersebut juga cenderung semakin meningkat di masa datang, maka pengelolaan CA Faruhumpenai dan tiga TWA Danau Malili (Matano, Mahalona, Towuti) perlu lebih ditingkatkan. Peningkatan pengelolaan tersebut meliputi peningkatan kelembagaan pengelolaan, peningkatan fungsi kawasan, serta perluasan kawasan TWA termasuk hutan lindung di sekeliling danau.

Pada saat ini pengelolaan CA Faruhumpenai serta tiga TWA Danau Malili yang luasnya mencapai 185.000 Ha, merupakan bagian dari tugas Seksi Wilayah II di Malili, Bidang Wilayah I Palopo, BBKSDA Sulsel di Makassar. Selain mengelola keempat kawasan konservasi tersebut, Seksi Wilayah II Malili juga bertugas mengelola tiga kawasan konservasi lainnya (CA Kalaena, CA Ponda-Ponda dan TWA Nanggala III), serta melakukan pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar di luar kawasan konservasi (konservasi ex-situ).  Sementara itu dalam melaksanakan tanggung jawabnya tersebut, Seksi Wilayah II Malili mempunyai permasalahan keterbatasan personil, sarpras, anggaran dan kewenangan, untuk memungkinkan pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi yang efektif.  Oleh karena itu alternatifnya, disamping meningkatkan kapasitas pengelolaan Seksi Wilayah II Malili, kedepan perlu dipertimbangkan untuk membentuk Balai Taman Nasional baru di Kabupaten Luwu Timur yang bertanggung jawab mengelola  kawasan Faruhumpenai dan ketiga danau Malili sebagai taman nasional.

Perubahan fungsi CA Faruhumpenai dan TWA Danau Matano, Danau Mahalona, Danau Towuti menjadi taman nasional yang dikelola oleh satu unit pengelolaan dalam bentuk Balai Taman Nasional  memungkinkan pengelolaan menjadi lebih efektif karena akan didukung oleh personil, anggaran, sarana pengelolaan serta kewenangan yang lebih besar  mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kegiatan pengelolaan dibandingkan kondisi pengelolaan pada saat ini.   Perubahan fungsi menjadi taman nasional tersebut juga menuntut adanya perluasan kawasan konservasi dengan merubah fungsi  sebagian kawasan hutan lindung yang berada di sekitar CA Faruhumpenai dan ketiga TWA Danau tersebut sehingga kawasan tersebut menjadi satu kesatuan kawasan taman nasional.

 

Ir. Dadang Wardhana, M.Sc (Kabid Teknis KSDA, Balai Besar KSDA Sulsel)