- Kontak Kami  |  SiteMap  |  WebMail -
Indonesian English French German Italian Japanese Malay Romanian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian

Senin, 10 Oktober 2011

Mengenal Metode Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi

Article Index
Mengenal Metode Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi
Aspek Pengelolaan Apa yang Dinilai?
All Pages

Pembentukan kawasan konservasi di berbagai belahan dunia berkembang cukup pesat.  Sejak penetapan Taman Nasional Yellowstone di Amerika Serikat pada tahun 1872 yang merupakan tonggak penting upaya konservasi alam di dunia,  jumlah kawasan konservasi pada saat ini mencapai sekitar 108.000 kawasan di seluruh dunia dan jumlah ini terus bertambah mencapai wilayah seluas 19.300.000 km2 atau lebih dari 13% luas daratan dunia, atau melebihi luas Benua Afrika.

 

I. LATAR BELAKANG

Para pakar, praktisi, NGO’s dari berbagai negara dalam beberapa kesempatan pertemuan internasional menyatakan pengelolaan kawasan konservasi  menghadapi  permasalahan baik bersifat eksternal berupa ancaman aktivitas yang merusak kawasan (penebangan liar, perambahan, perburuan satwa liar dan lain lain), maupun karena masalah internal lemahnya kapasitas pengelolaan.

Pihak pengelola  (protected area manager) pada umumnya menyadari permasalahan yang mereka hadapi dalam mengelola kawasan konservasinya, namun mereka mendapat kesulitan untuk mengidentifikasi prioritas permasalahan, prioritas alokasi sumber daya, serta mengetahui apakah pengelolaan yang mereka jalankan sudah cukup efektif dalam mencapai tujuan pengelolaan.  Demikian juga pihak lembaga donor mendapat kesulitan untuk mengidentifikasi sampai sejauh mana dana yang diinvestasikan telah berhasil mendukung pengelolaan atau melindungi satwa langka tertentu, serta menentukan prioritas kegiatan pengelolaan  apa yang perlu dibantu.

Mempertimbangkan permasalahan tersebut di atas, IUCN telah mengembangkan framework untuk menilai efektivitas kawasan konservasi di dunia yang terdiri dari context, planning, input, processes, outputs dan outcomes. Berdasarkan pada framework IUCN tersebut telah dibuat berbagai metode penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi yang telah diterapkan untuk menilai pengelolaan kawasan konservasi di lebih dari 100 negara di dunia termasuk kawasan konservasi di Indonesia.

 

II. MENGAPA PERLU MELAKUKAN PENILAIAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI?

Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi diperlukan karena:

  1. Penerapan adaptive management dalam pengelolaan
  2. Identifikasi prioritas dan alokasi sumberdaya untuk mencapai tujuan pengelolaan
  3. Perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan
  4. Dukungan untuk meningkatkan pengelolaan – building support.

Adanya penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, baik untuk kepentingan menyeluruh aspek pengelolaan maupun untuk tujuan spesifik pengelolaan yang dilakukan secara periodik, memungkinkan pihak pengelola untuk menerapkan adaptive management sesuai kebutuhan pengelolaan dari waktu ke waktu berdasarkan hasil penilaian efektivitas pengelolaan.  Kegiatan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi ini di Indonesia masih jarang dilakukan, sehingga pengelolaan menjadi tidak terarah, tidak efektif dan tidak efisien dalam mencapai tujuan pengelolaan kawasan konservasi.

Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi juga penting untuk mengidentifikasi prioritas dan alokasi sumberdaya untuk mencapai tujuan pengelolaan.  Baik protected area manager maupun donor akan merasa yakin dan konsisten dalam menentukan prioritas dan alokasi sumberdaya yang dibutuhkan dalam pengelolaan kawasan konservasi, karena didasarkan pada kajian “real condition” berbagai aspek-aspek pengelolaan sesuai framework IUCN yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan pengelolaan kawasan konservasi. Dengan adanya penilaian efektivitas pengelolaan ini akan membantu pengelola dalam menyusun rencana kegiatan pengelolaan.

Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi juga mendukung terlaksananya akuntabilitas dan transparansi pengelolaan kawasan konservasi kepada publik.  Dalam pelaksanaan penilaian melibatkan berbagai pihak termasuk perwakilan masyarakat sekitar, yang memungkinkan mereka mengetahui kegiatan-kegiatan pengelolaan yang telah dilakukan, efektivitas penggunaan anggaran negara untuk kepentingan pengelolaan, serta memberikan masukan dalam proses penilaian.   Akuntabilitas dan transparansi penting untuk menggalang dukungan dan partisipasi para pihak, terutama masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

Hasil dari penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi akan menjadi bahan informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang ingin membantu pengelolaan kawasan konservasi termasuk lembaga/negara donor, perguruan tinggi, lembaga penelitian, LSM, pemerintah daerah, dan pihak lainnya.

 

III. TAHAP-TAHAP DALAM MELAKSANAKAN PENILAIAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI

Tahapan dalam pelaksanaan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi meliputi:

  1. Menentukan maksud, tujuan dan lingkup penilaian
  2. Mengidentifikasi  ketersediaan  sumber informasi/pengetahuan
  3. Menjamin dukungan para pihak,  team building
  4. Melaksanakan penilaian
  5. Menganalisa hasil penilaian.
  6. Memformulasi rencana kegiatan
  7. Mengkomunikasikan hasil penilaian dan rencana kegiatan.

Maksud, tujuan dan lingkup penilaian perlu diidentifikasi terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, karena akan menentukan metode penilaian yang akan digunakan.   Metode penilaian secara umum dapat dibedakan untuk kepentingan membandingkan pengelolaan beberapa kawasan konservasi (level system), penilaian pengelolaan kawasan konservasi tertentu, dan penilaian dampak suatu kegiatan terhadap kawasan konservasi.

Ketersediaan sumber informasi/pengetahuan akan menentukan kelengkapan dan tingkat kebenaran informasi yang diperoleh dalam proses penilaian dan menentukan kredibilitas hasil penilaian.  Oleh karena itu perlu diidentifikasi pihak-pihak yang berkompeten untuk dilibatkan dalam proses penilaian sesuai dengan metode yang digunakan dalam proses penilaian. Selain pengelola kawasan konservasi, dapat pula dilibatkan perwakilan masyarakat, LSM, perguruan tinggi, Dinas/instansi terkait sebagai nara sumber.  Dengan adanya variasi narasumber maka data/informasi yang diperoleh dalam proses penilaian akan menjadi lebih obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Guna kelancaran pelaksanaan kegiatan penilaian kawasan konservasi perlu dibangun komunikasi yang baik antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses penilaian, agar masing-masing pihak merasa dihargai dan diberi kesempatan yang sama dalam menyampaikan pendapatnya.  Untuk itu diperlukan fasilitator yang andal untuk membangun suasana yang kondusif bagi semua peserta dalam proses penilaian.

Pelaksanaan kegiatan penilaian biasanya dipimpin oleh fasilitator yang telah berpengalaman dalam melaksanakan metode penilaian, sehingga mampu menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan penilaian,  mengkoordinir dan mengarahkan peserta dalam pelaksanaan penilaian, menganalisis  dan menyimpulkan hasil penilaian bersama-sama.  Berdasarkan analisis hasil penilaian, akan dibuat rekomendasi aksi prioritas yang diperlukan untuk meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi.  Hasil penilaian dan rekomendasi aksi selanjutnya dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan baik melalui suatu workshop/seminar, maupun publikasi.