- Kontak Kami  |  SiteMap  |  WebMail -
Indonesian English French German Italian Japanese Malay Romanian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian

Sabtu, 08 Oktober 2011

Wisata bertanggung jawab

Konsep wisata bertanggungjawab (Responsible tourism) pertama kali dikenalkan pada 1987 dan disempurnakan pada 1993 oleh The Ecotourism Society, yang mendefinisikannya sebagai “suatu perjalanan yang bertanggung jawab pada lingkungan alami yang mendukung konservasi dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat”. Dari konsep ini diinisiasilah kegiatan wisata bertanggungjawab di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) dan sekitarnya. Tujuan yang ingin dicapai adalah menjaga keberlangsungan TNK sebagai sistem pendukung kehidupan (life supporting system) dan memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat di sekitar TNK.Sampai saat ini, terdapat dua kegiatan wisata alam di kawasan TNK, yaitu di Sangkima dan Prevab – Mentoko.

Awal tahun 2009, Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI-Green Network) bersama BIKAL, Balai TNK, dan PT Kaltim Prima Coal,  mengembangkan program wisata bertanggungjawab di kawasan TNK dan sekitarnya.

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan dan rekomendasi yang dihasilkan antara lain :

1.       Survey dan evaluasi potensi obyek wisata yang ada di dalam dan sekitar kawasan Taman Nasional Kutai (24 April – 14 Mei 2009). Hasil survey tersebut yaitu:

  • Wisata alam Sangkima telah memiliki fasilitas dan infrastruktur pendukung wisata alam yang memadai. berpotensi untuk dikembangkan kegiatan pengenalan keanekaragaman hayati, trekking dan camping ground.
  • Kawasan pusat penelitian orangutan Prevab-Mentoko, di dalamnya telah tersedia sarana dan prasarana pendukung serta trail bagi pengamatan orang utan dan keanekaragaman hayati lainya. Karena letaknya di dalam zona rimba, maka fungsi utamanya adalah sebagai area penelitian dan wisata terbatas.
  • Dusun Kabojaya memiliki beragam potensi budaya, ragam kehidupan sosial masyarakat yang berasal dari berbagai etnis, praktek-praktek pertanian tradisional masyarakat (praktek pertanian organik dan agrowisata) yang dapat dikembangkan sebagai bentuk atraksi wisata.
  • Pantai Teluk Lombok memiliki beragam objek wisata pantai berupa hutan mangrove, wisata pantai dan wisata khusus seperti snorkeling dan divingdan secara rutin sudah dikunjungi oleh para wisatawan secara terbuka

2.      Shared Learningwisata bertanggungjawab (Bontang, 10-18 Juni 2009)dengan tema “Mengembangkan Wisata Bertanggung Jawab (Responsible Tourism) di Kawasan Konservasi untuk Melestarikan Alam dan Kesejahteraan Masyarakat”. Rekomendasi yang dihasilkan adalah:

  • Dusun Kabo Jaya dipilih sebagai lokasi uji coba kegiatan wisata bertanggung jawab berbasis masyarakat
  • Menindaklanjuti rencana-rencana yang telah disampaikan peserta
  • Jaringan  atau rantai informasi antar alumni, panitia, dan narasumber perlu di bentuk dan di jaga
  • Perlu sumber daya manusia untuk mengawal prosesa pasca-kegiatan Shared Learning (working group)

3.      Simulasi pelaksanaan Dusun Kabo Jaya dilakukan pada Oktober – Desember 2009.  Hasil yang telah dicapai adalah :

  • Terbentuknya  Badan Pengelola Ekowisata Kabo Jaya
  • Pembuatan paket wisata yang terdiri dari wisata alam, agro, budaya (kuliner, tari-tarian)
  • Pelatihan-pelatihan dalam upaya peningkatan kapasitas badan pengelola (pelatihan ekowisata, pelatihan tentang potensi,keanekaragaman hayati TamanNasional kutai beserta perijinan, pelatihan bahasa asing (inggris)

4.      Workshop Action Plan multipihak antara masyarakat, TNK, Dinas terkait dan Mitra Kutai(Mei 2010)untuk memetakan  rencana aksi jangka pendek, menengah, dan panjang

Rancangan kegiatan sebagai kelanjutan program Wisata Bertanggung jawab tahun 2009, antara lain :

  • Pemantapan Kabo Jaya sebagai destinasi wisata
  • Penataan Teluk Lombok menjadi site wisata ramah lingkungan untuk skala massal
  • Merumuskan kebijakan terkait pengelolaan wisata bertanggung jawab di Taman Nasional Kutai

Sumber : http://www.pili.or.id/artikel/wisata-bertanggungjawab