- Kontak Kami  |  SiteMap  |  WebMail -
Indonesian English French German Italian Japanese Malay Romanian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian

Senin, 10 Oktober 2011

Membangun kemitraan, solusi pengendalian karhut

Article Index
Membangun kemitraan, solusi pengendalian karhut
Bukan Tanggungjawab Pemerintah saja
All Pages

Kebakaran hutan merupakan salah satu unsur kerusakan hutan yang paling utama dikenal di Indonesia dan pada umumnya terjadi antarabulan Juli sampai dengan Nopember. Perladangan berpindah yang merupakan cara bercocok tanam paling sederhana/awal dalam sejarah

pertanian yang dilakukan di hutan, menggunakan cara pembakaran hutan untuk persiapan lahannya. Demikan pula dengan sistem HTI yang sampai akhir tahun 1997 masih banyak melakukan pembakaran hutan dalam pekerjaan persiapan lapangannya.

Kerugian  yang ditimbulkan milyaran bahkan trilyunan rupiah dan mungkin pula dapat dikatakan tak ternilai  harganya, karena terdapat beberapa jenis flora maupun fauna yang musnah dimuka bumi ini akibat kebakaran yang terjadi seperti yang telah dikemukakan beberapa ahli.

Melihat karakteristik kebakaran hutan di Indonesia yang terjadi setiap tahun yang sumber masalahnya multi sektor serta implikasinya juga multi dampak, maka dalam penanganannya sangat diperlukan pendekatan yang multi sektor, keterpaduan dan sebagainya. Namun demikian bukan berarti bahwa apabila timbul masalah kebakaran hutan, maka tanggung jawab hanya ada pada satu lembaga saja melainkan tanggung jawab kita bersama.

Kerugian Yang Ditimbulkan :

Nilai kerugian secara ekonomis yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan cukup besar. Sebagai contoh kebakaran hutan tahun 1997 menimbulkan kerugian sebesar US $ 4,5 milyar dengan rincian sebesar US $ 4,07 milyar dialami Indonesia, US $ 0,32 milyar dialami Malaysia dan US $ 0,08 milyar dialami negara Singapura. Disamping kerugian secara ekonomis, kerugian yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan diberbagai aspek cukup besar, misalnya aspek lingkungan, sosial ekonomi, aspek kesehatan, perhubungan dan berbagai aspek lainnya.

Aspek ekologis atau lingkungan, maka menimbulkan kerusakan ekosistem hutan, hancurnya sumber plasma nutfah, lingkungan global mengalami gangguan. Sifat fisik dan kimia tanah dapat berubah dan pada kebakaran dengan intensitas tinggi dapat mematikan tanaman, memusnahkan humus tanah sehingga dari aspek biotik kandungan lahan hutan berubah sifat. Kebakaran hutan tahun 1997/1998 menyebabkan kota-kota besar di pulau tersebut antara lain Pekanbaru, Jambi, Palembang, Pontianak, Palangkaraya dan Samarinda dalam kesehariannya diliputi asap.

Dampak lain berupa terganggunya perhubungan dengan meruginya beberapa bandar udara karena beberapa penerbangan maupun pendaratan tertunda akibat kepulan asap dari kebakaran hutan dan lahan, sehingga secara ekonomis perusahaan penerbangan mengalami kerugian dan penumpangpun ikut menerima akibatnya. Bahkan dilaporkan terdapat beberapa pesawat mengalami kecelakaan berupa jatuhnya pesawat konon disebabkan oleh adanya pengaruh asap yang tebal disamping human error.

Dampak lain berupa terganggunya kesehatan masyarakat dibeberapa wilayah terutama yang langsung berhubungan dengan lokasi kejadian kebakaran seperti iritasi mata, ISPA, bronkhitis dan berbagai penyakit lainnya akibat adanya asap yang melebihi ambang batas yakni 0,26 mg/kubik, sedangkan di Pekan Baru Propinsi Riau contohnya, dilaporkan kandungan asap mencapai 2,02 mg/kubik pada kejadian kebakaran hutan dan lahan tahun 1997 (Suara Karya, 25 September 1997).