- Kontak Kami  |  SiteMap  |  WebMail -
Indonesian English French German Italian Japanese Malay Romanian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian

Jumat, 07 Oktober 2011

Apa Kontribusi Kelelawar Bagi Manusia?

Hewan malam kelelawar ternyata memiliki kontribusi besar dalam hidup manusia, mulai dalam urusan pangan hingga penanggulangan penyakit. Sayangnya, kontribusi itu belum disadari betul oleh sebagian besar manusia. Demikian terungkap dalam Konferensi Internasional Kelelawar Asia Tenggara ke-2 yang dimulai Senin (6/6) di Bogor, Jawa Barat.


Dalam hal pangan, kelelawar menyerbuki tanaman yang buahnya sering dikonsumsi manusia. Di Kebun Raya Bogor Saja, seperti dijelaskan oleh Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr. Siti Nuramaliati Prijono, kelelawar menyerbuki 52 jenis tumbuhan. Penelitian juga berhasil mengidentifikasi ada 186 jenis tumbuhan tropis yang bisa dapat digunakan sebagai obat, makanan, serta penghasil kayu tergantung dari kelelawar. "Jika Anda makan pisang, itu pasti hasil kerja kelelawar," kata Prof. Dr. Ibnu Maryanto, ahli kelelawar yang sudah 20 tahun meneliti hewan malam tersebut.

Selain membantu penyerbukan, kelelawar berfungsi sebagai predator hama pertanian. "Salah satu pemakan hama utama padi," kata Siti.

Kelelawar juga bisa jadi alat kontrol biologi penyakit malaria. "Dalam sekali jalan, seekor kelelawar bisa memakan sekitar 6.000 nyamuk," kata Ibnu. "Saya yakin, kalau gunung kapur di daerah Bandung habis, malaria akan menyebar di Bandung." Gua-gua di karst merupakan salah satu habitat bagi kelelawar gua. Kelelawar juga didapati hidup di dalam lubang pohon.

Eksploitasi batu kapur dan hutan akan mengganggu kelelawar. ketika kelelawar sudah hilang dari suatu daerah, dampaknya akan terasa. "Malaria, langkanya buah-buahan di antaranya," kata Ibnu. Saat ini, diperkirakan Ibnu, dari 225 jenis kelelawar di Indonesia sekitar 5 persennya sudah hilang. Meskipun demikian, di Indonesia masih sering ditemukan spesies baru.

Departemen Pertambangan sudah mengeluarkan surat keputusan yang menyebutkan bahwa penambangan batu kapur dilarang di gua yang menjadi habitat kelelawar atau burung walet. "Tetapi di lapangan, bupati sering memberikan izin lebih kepada para penambang," jelas Ibnu yang sudah keliling Indonesia meneliti kelelawar. "Kami para peneliti sudah memberikan rekomendasi dengan menjelaskan peran kelelawar serta dampaknya kalau mereka hilang," tambahnya.

 

Sumber: NG Indonesia