- Kontak Kami  |  SiteMap  |  WebMail -
Indonesian Afrikaans Arabic English French German Italian Japanese Malay Romanian Russian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian

Selasa, 17 Januari 2012
Konservasi SDAHE    |    Kebakaran Hutan    |    Keanekaragaman Hayati    |    Flora    |    Fauna    |    Konservasi Kawasan    |    Jasling & Wisata alam    |    Pengumuman

Burung Paruh Bengkok

 

Burung paruh bengkok merupakan salah satu family burung yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan jenis burung lainnya. Tingkah laku yang dimilikinya seperti menelisik bulunya dan atau saling menelisik sesame pasangannya, warna bulunya yang beragam, kemampuan meniru suara yang didengarnya serta mudah dijinakkan sehingga akrab dengan manusia, membuat burung ini dimanati oleh masyarakat untuk dipelihara.

 

Tercatat sekitar 328 jenis burung paruh bengkok, 23,17% atau sekitar 76 jenis diantaranya terdapat di Indonesia dan sebagaian besar hidup dan tersebar di wilayah bagian Timur Bumi Nusantara, diantaranya Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Pulau Bali, Pulau Irian dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Ciri utama burung ini adalah paruhnya yang bengkok dan bersifat massif (padat dan kompak). Bagian atas dan bawah berbentuk bengkok menyerupai catut yang berfungsi sebagai penghancur (pemecah biji-bijian), baik yang besar maupun yang kecil. Berdasarkan klasifikasi satwa liar, burung paruh bengkok termasuk dalam family Psittacidae. Adapun klasifikasi selengkapnya adalah sebagai berikut :

  • Fylum        : Chordata;
  • Sub Fylum : Vertebrata;
  • Kelas         : Aves;
  • Ordo         : Psittaciformis;
  • Famili        : Psittacidae;
  • Sub Famili : Cacatuanidae, Lorinae dan Psittaninae;
  • Genus-Cacatua : Probosciger, Lorius, Trichoglossus, Eos, Electus, Tanygnatus, Loryculus, dan Psittrichos;

Species : Cacatua galerita, Proboscigervaterrimus, Lorius lory, Trichoglossus ornatus, Eos electus, Electus roratus, Tanygnatus sumateranus, Loryculus exilis, dan Psittrichos fulgidus (Prahara, 2003)

Keberadaan burung paruh bengkok hingga saat ini telah menurun. Meningkatnya jumlah penduduk yang semakin berpengaruh terhadap kebutuhan akan lahan pertanian, perumahan, industry, perkebunan, tambak, dan peruntukan lainnya telaah membuat keberadaan satwa ini di alam semakin tertekan. Sementara itu tingginya harga dipasaran memicu masyarakat untuk melakukan perburuan secara langsung di alam, sementara upaya penangkaran jenis satwa ini belum banyak dilakukan.

Konservasi satwa bagi kehidupan (KSBK) yang dikutip kompas Minggu 14 Juli 2002 mengemukakan bahwa setiap tahun lebih kurang 15.000 burung paruh bengkok diselundupkan dari ambon untuk diperdagangkan di 5(lima) pasar burung di Jawa (Yogyakarta, Malang, Bandung, Surabaya dan Jakarta). Tingginya minat masyarakat untuk memelihara burung ini membuat semakin tingginya harga yang ditawarkan di pasaran. Seekor burung kakatua jambul kuning ditawarkan dengan harga Rp. 1.500.000, burung nuri kepala hitam Rp. 750.000, dan burung bayan sekitar Rp. 550.000,- per ekor.

Upaya pelestarian satwa liar ini telah dilakukan melalui konservasi jenis burung diantaranya :

  1. Penetapan status perlindungannya sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah RI nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa
  2. Penetapan sebagian wilayah hutan sebagai kawasan konservasi yang diharapkan menjadi habitat alami bagi satwa
  3. Departemen Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam telah menempatkan petugas Polisi kehutanan (Polhut) di pintu gerbang masuk antar pulau di seluruh Nusantara (Pelabuhan dan Bandara) untuk mencegah terjadi peredaran tumbuhan dan satwa liar secara ilegal.

Upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil. Penyelundupan berbagai jenis burung, termasuk burung jenis ini, masih saja terjadi dan sulit dipantau dikarenakan ukuran tubuh jenis burung ini relative kecil dan mudah dibawa sehingga menyulitkan petugas dalam pengawasannya serta banyaknya pelabuhan rakyat yang tidak terjangkau penjagaannya oleh Polhut sehingga menjadi lalulintas yang aman untuk peredaran satwa secara illegal.

Berikut jenis-jenis burung paruh bengkok yang dilindungi undang-undang yang banyak diminati oleh masyarakat adalah :

  1. Kelompok Kakatua (Cacatuaninae) : Kakatua koki (Cacatua galerita), Kakatua kecil jambul kuning (C.sulphurea), Kakatua Tanimbar (C.coffini), Kakatua Maluku (C.moluccensis), Kakatua Raja (Probosciger aterrimus)
  2. Kelompok Nuri (Lorinae) : Nuri Merah Kepala Hitam (Lorius lory), Nuri Merah Kepala Hitam (Lorius domicella), Perkici dora (Trichoglossus ornathus), Nuru Kabare (Psittirichas fulgidus) dan Nuri Talaud (Eos histrio)
  3. Kelompok Betet (Psittaninae) : Bayan (Electus roratus), Serindit Sulawesi (Loriculus stigmatus), Serindit Paruh Merah (L.exilis), Serindit Sangihe (Psittirichas fulgidus) dan Betet Kepala Punggung Biru (Tanygnatus sumateranus)

Upaya penertiban terhadap satwa liar yang dilindungi undang-undang, baik yang diperdagangkan maupun yang dipelihara masyarakat karena hobi/kesenangan, telah dilakukan diantaranya melalui Operasi Khusus Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilindungi undang-undang, baik yang diperdagangkan maupun yang dipelihara masyarakat karena hobi/kesenangan, telah dilakukan diantaranya melalui Operasi Khusus Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilindungi undang-undang oleh Tim Operasi Gabungan Balai KSDA Sulawesi Selatan II di wilayah kerja Balai KSDA Sulawesi Selatan II. Pelaksanaan operasi yang dilaksankan hingga tahun 2004 telah berhasil menyita burung paruh bengkok sebanyak 104 ekor yang terdiri dari jes kakatua (Cacatua sulphurea dan C. galerita), Nuri Kepala Hitam (Lorius lory), Nuru Talaud (Eos histrio), Perkici Dora (Trichoglossus ornatus), dan Bayan (Electus roratus), Betet Kelapa Punggung biru (Tanygnatus sumateranus), dan Bayan (Electus roratus). Hasil operasi tersebut selanjutnya dititipka kepada Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki dan Lembaga Konservasi (Taman Burung) PT. Dankam di Makassar.

Keberadaan burung paruh bengkok di alam hingga saat ini telah menurun drastis. Meningkatnya jumlah penduduksangat berpengaruh terhadap kebutuhan akan lahan pertanian, perumahan, industri, perkebunan, tambak dan peruntukan lainnya telah membuat keberadaan satwa ini dialam semakin tertekan dengan penurunan kualitas habitatnya.

Untuk mempertahankan kelestarian satwa ini, perlu perhatian khusus, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat serta semua pihak yang peduli terhadap kelestarian fauna sebagai sumberdaya alam hayati yang potensial. Tanpa dukungan dan kerjasama semua pihak upaya pelestarian terhadap fauna sebagai sumberdaya alam akan semakin terancam.

 
Google
Web ksdasulsel
SUBSCRIPTION
Silahkan Anda memasukkan email pada kolom di bawah untuk dapat berlangganan artikel / berita terbaru dari kami :

Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan

Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 13,7

Kotak Pos 1144 Makassar 90241

Sulawesi Selatan – INDONESIA

Telp. / Fax.   : + 62 – 411 – 590371 / 590370