TWA. Danau Matano

Tweet

Kompleks hutan Danau Matano, Mahalona dan Towuti yang dulunya merupakan wilayah adminstrasi Pemerintah Kabupaten Luwu Propinsi Sulawesi Selatan awalnya ditunjuk sebagai kawasan hutan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 45/ Kpts/Um/1/1978 tanggal 25 Januari 1978 dengan fungsi lindung. Tahun 1978 diadakan survei oleh Direktur Jenderal Kehutanan untuk menilai potensinya. Pada tanggal 17 April 1979, Direktur Jenderal Kehutanan mengusulkan kawasan ini untuk dapat ditunjuk sebagai kawasan Taman Wisata Alam kepada Menteri Pertanian melalui surat No. 1243/Dj/I/1979. Memperhatikan surat Direktur Jenderal Kehutanan, maka Menteri Pertanian kemudian menunjuk kawasan Danau Matano, Mahalona dan Towuti menjadi kawasan konservasi Taman Wisata Alam dengan nama Taman Wisata Alam Danau Matano, Taman Wisata Alam Danau Mahalona, dan Taman Wisata Alam Danau Towuti melalui surat Keputusan No. 274/Kpts/Um/4/1979 tanggal  24 April 1979.

 

Nilai Keunikan

Kawasan ini merupakan perwakilan formasi ekosistem danau tectonik. Merupakan danau terdalam di kawasn Asia Tenggara. Panorama alam yang indah dapat dinikmati setiap saat, dari pagi hingga malam hari. Merupakan habitat alami dari beberapa jenis fauna. Danau ini merupakan habitat alami dari 13 jenis ikan air tawar endemik Sulawesi. Danau Matano juga merupakan habitat alami dari 76 % dari 27 jenis Moluska air tawar endemik Sulawesi (Whitten et al, 2002). Danau dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan wisata tirta yang dapat juga dipadukan dengan kegiatan wisata minat khusus.
Danau terdalam di Asia Tenggara (± 590 m). Merupakan contoh perwakilan ekosistem danau tectonic. Danau dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan wisata tirta yang dipadukan dengan kegiatan wisata minat khusus, seperti rock climbing, caving, hiking, dan lain sebagainya. Panorama alam yang sangat indah dapat dinikmati setiap saat, dari pagi hingga malam hari. Merupakan habitat alami dari beberapa jenis fauna. Danau ini merupakan habitat alami dari 13 jenis ikan air tawar endemik Sulawesi. Danau Matano juga merupakan habitat alami dari 76 % dari 27 jenis Moluska air tawar endemik Sulawesi (Whitten et al, 2002). Danau ini merupakan habitat Crocodylus porosus, Hydrosaurus amboinensis & Enhydris matannensis. Jenis Brownish-grey freshwater snake Enhydris matannensis hanya diketahui dari 2 speciemen yang pernah dikumpulkan. Satu dari Danau Matano dan satu lagi dari sebuah tempat pelelangan ikan di dekat Raha Pulau Muna (Iskandar, 1979). Wilayah daratannya merupakan habitat dari Babyrousa babirussa, Bubalus quarlesi, dan lain-lain. Kawasan perbukitannya dengan pepohonan yang besar merupakan tempat hidup Rhyticeros cassidix dan Penelopides exarhatus yang tidak dapat terbang rendah

    Secara administrasi pemerintahan, TWA Danau Matano berada pada 2 wilayah pemerintahan yaitu Kecamatan Nuha dan Kecamatan Soroako Kabupaten Luwu Timur. Sebelah Utara, berbatasan dengan Desa Nuha Kecamatan Nuha; Sebelah Timur, berbatasan dengan Areal Konsesi Pertambangan PT. INCO; Sebelah Selatan, berbatasan dengan Desa Magani, Desa Sorowako, Desa Nikkel dan Areal Konsesi Pertambangan PT. INCO yang berada di wilayah Kecamatan Nuha; Sebelah Barat, berbatasan dengan Desa Matano Kecamatan Nuha.

            Secara umum berupa kawasan periran danau, selain berhubungan dengan danau mahalona danau ini juga dialiri oleh air sungai luwu, lemolengku dan lemolemo.

            Tipe Ekosistem

            Danau Merupakan danau tectonic. Kedalaman danau mencapai 590 m dan merupakan danau terdalam di Asia Tenggara. Maksimum area danau seluas ± 16.408 ha pada elevasi 382 m dpl. Sumber air danau berasal dari beberapa mata air dan catchment area di sekitarnya yang masuk ke dalam danau melalui 10 sungai/anak sungai. Variasi level air tahunan ± 56 cm pada musim penghujan dan musim kemarau, dengan variasi volume air tahunan ± 92 Juta m3. Produksi ikan dari danau ini ± 6,5 kg/ha/tahun. Danau Matano merupakan habitat dari    ± 76 % dari 27 jenis moluska air tawar endemik di Sulawesi(Whitten et al, 2002). Buaya Crocodylus porosus dan Soa-soa Hydrosaurus amboinensis serta 13 jenis ikan air tawar endemik merupakan penghuni Danau Matano yang dapat dengan mudah dijumpai. Enhydris matannensis merupakan jenis ular air tawar yang hidup di danau ini. Jenis ini hanya diketahui dari 2 speciemen yang berhasil dikumpulkan oleh D. Iskandar (1979), yaitu dari Danau Matano dan dari sebuah pelelangan ikan di dekat Raha (Sulawesi Tenggara). Jenis aves yang dapat dengan mudah dijumpai antara lain Pecuk Ular Anhinga melanogaster yang menyelam ke danau untuk mencari ikan dan kemudian mengeringkan bulunya pada pucuk-pucuk pohon
            Hutan Pamah yang di dominasi oleh jenis-jenis pepohonan yang tinggi dan jenis-jenis perdu. Pada beberapa bagian kawasan terdapat hamparan padang yang ditumbuhi oleh rerumputan (Poaceae) dan merupakan habitat Cervus timorensis.
            Hutan Hujan Tropis Pegunungan Bawah. Pada ekosistem hutan hujan pegunungan bawah masih dapat ditemukan jenis-jenis pepohonan yang tinggi tetapi sangat jarang. Ekosistem ini pada kawasan Taman Wisata Alam Danau Matano sedikit terganggu oleh aktifitas manusia, seperti penebangan liar dan terutama oleh perladangan/perambahan kawasan hutan yang sudah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum kawasan hutan ini ditunjuk menjadi kawasan konservasi. Jenis-jenis satwa liar yang dapat atau pernah dijumpai dari kawasan ini, antara lain Anoa quarlesi, Babyrousa babirussa, Sus celebensis, Strigocuscus celebensis, Rhyticeros cassidix, Penelopides exarhatus, dan lain sebagainya.

                Aksesibilitas menuju Taman Wisata Alam Danau Matano dapat dicapai dengan jalur darat dari Kota Makassar sebagai Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Jarak Kota Makassar ke kawasan Taman Wisata Alam Danau Matano secara keseluruhan adalah ± 620 Km, dengan jalur : Makassar – Parepare – Palopo – Masamba – Malili - Soroako - Taman Wisata Alam Danau Matano. Kondisi jalan darat yang dilalui relatif baik (jalan propinsi, jalan kabupaten dan jalan PT. INCO). Waktu tempuh berkisar antara 12 hingga 13 jam. Selain itu, Taman Wisata Alam Danau Matano dapat ditempuh dengan menggunakan Pesawat Udara jenis Fokker (jumlah penumpang maksimal 12 orang) dari Bandara Hasanuddin (Kabupaten Maros) ke Bandara PT. INCO