- Kontak Kami  |  SiteMap  |  WebMail -
Indonesian English French German Italian Japanese Malay Romanian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian

Jumat, 07 Oktober 2011

Elang-Alap Jambul Dilepasliarkan

Seekor elang-alap jambul (ATrivirgatus; Crested Goshawk) hasil penertiban operasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) DIY dari Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Sermo Kulonprogo, Kamis (15/9). Pelepasliaran ini sebagai bentuk pengembalian burung pemangsa ini pada habitat aslinya.

 

Pendiri Raptor Club Indonesia (RCI), Leonardus Kabul Sumarto Budiprakoso menjelaskan, dari hasil operasi BKSDA pada Juni 2011 lalu, kondisi fisik burung elang-alap jambul sangat mengkhawatirkan khususnya di tangan pemburu. Asupan pakan hingga penempatan dalam kandang yang tidak sesuai peruntukannya menyebabkan burung ini mengalami tingkat stress yang tinggi.
Menurut pantauan RCI, elang alap jambul ini sangat mudah stres bila dirawat secara tidak benar. "Burung ini perlu mendapat perlakukan khusus. Untuk pemeliharan dalam jangka panjang, burung tersebut memang harus segera dikembalikan ke tempat asalnya," paparnya sambil menceritakan bahwa BKSD telah mempercayakan RCI untuk merawat burung tersebut. Dirinya melanjutkan, burung pemangsa ini jarang ditemukan dibanding kelompok alap-alap dan elang.
Burung ini berukuran kecil sebesar alap-alap, namun bentuk tubuh dan cara berburunya seperti elang. Burung yang memiliki sebaran di Asia Selatan, Asia Tenggara, Kalimantan, Sumatra, serta Jawa ini adalah burung sensitif dan lebih memillih menjauh jika mendeteksi keberadaan manusia. Kendati begitu, peranannya di alam tak kalah luar biasa dibandingkan elang.
Burung ini berperan sebagai kontrol populasi hama di alam liar. Target mangsanya adalah serangga dan mamalia kecil. Burung ini pun menyukai hutan dataran rendah, perbukitan, hingga ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut. Sementara itu, pemilihan Suaka Margasatwa Sermo di Kulonprogo Yogyakarta disebabkan karena kawasan tersebut diduga menjadi pendukung kelangsungan hidupnya. Hasil pantauan awal pada tahun 2011, di kawasan tersebut ditemukan sepasang elap alang jambul. Kawasan tersebut juga masih ditumbuhi banyak pepohonan, belalang, serta burung kecil. Bahkan hingga akhir 2010, kawasan margasatwa tersebut menjadi habitat lima jenis burung pemangsa, yaitu elang jawa, elang hitam, sikep-madu Asia, elang ular bido, serta alap-alap sapi.
Kepala BKSDA DIY, Herry Subagiadi menambahkan, pelepasliaran ini bisa membantu burung pemangsa untuk menikmati habitatnya dengan benar. Seperti diketahui sekarang, lanjutnya, di beberapa negara di Asia, keberadaan burung pemangsa banyak terancam oleh perubahan iklim, fungsi lahan, serta perburuan.
Sumber : NGI