- Kontak Kami  |  SiteMap  |  WebMail -
Indonesian Afrikaans Arabic English French German Italian Japanese Malay Romanian Russian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian

Kamis, 15 Desember 2011
Konservasi SDAHE    |    Kebakaran Hutan    |    Keanekaragaman Hayati    |    Flora    |    Fauna    |    Konservasi Kawasan    |    Jasling & Wisata alam    |    Pengumuman

Dukung Komodo Hanya Akal-akalan

ZURICH (RP) - Polemik Yayasan The New Seven Wonders of the World (N7W) yang mengaudisi tujuh keajaiban dunia baru kembali mencuat.


Selain tak diakui UNESCO sebagai lembaga resmi PBB yang bertanggung jawab akan pelestarian budaya dunia (world heritage), kiprah N7W di Indonesia juga disebut-sebut merugikan masyarakat.

 



Ini karena ada mobilisasi pengiriman via SMS untuk memenangkan Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai salah satu finalis tujuh keajaiban baru dunia.

Padahal sebelumnya, UNESCO menentukan kejaiban dunia berdasar penelitian mendalam melibatkan pakar arkeologi, bukan berdasar jumlah pemilih (vote) via internet maupun SMS.

Dubes RI di Swiss Djoko Susilo mengatakan, sejak awal dia yakin pemilihan tujuh kejaiban dunia baru itu hanya akal-akalan yayasan milik Bernard Weber tersebut.

‘’Logikanya, keajaiban dunia tak mungkin via vote seperti itu. Seperti ajang Indonesian Idol saja, banyak yang SMS, akhirnya menang. Ini masalah heritage, bukan audisi calon artis,’’ katanya ke JPNN di kantornya Elfenauweg 51, Bern, Swiss.

Djoko menjelaskan, sejak pertama dia yakin N7W adalah ajang bisnis semata.

Sebab, yang dia tahu, orang Swiss memang paling lihai membuat semacam event organizer (EO) atau kegiatan apapun yang bisa menghasilkan uang. Seperti N7W, di Swiss kegiatan semacam itu sah-sah saja dan tak bisa dikategorikan penipuan.

‘’Kegiatan seperti itu biasa di Swiss. Pemerintah Swiss bukan menganggap penipuan. Sah-sah saja orang bikin semacam award-award-an seperti itu. Kegiatannya ada kok. Cuma, masalahnya, kredibel atau tidak. Dan lagi, kegiatan ini di Indonesia merugikan orang banyak dengan berkirim via SMS itu,’’ katanya.

Menurutnya, sejak dia masuk Swiss sebagai duta besar pada Maret 2010, belum pernah mendengar nama N7W. Dubes yang dia gantikan, Lucia H Rustam, saat serah terima jabatan juga tak pernah menyinggung sama sekali N7W.

Padahal, Kedubes RI di Bern, Swiss, sudah pernah menerima sertifikat bahwa TNK (Taman Nasional Komodo) jadi salah satu dari 28 finalis kejaiban dunia.

Sertifikat itu tertulis dibuat, di Zurich pada 21 Juli 2009 dan ditandatangani dua orang. Yakni Prof Federico Mayor (Presiden Panel N7W) dan Bernard Weber (pendiri kampanye N7W).

Sertifikat itu berukuran 20 Cm x 40 Cm dengan tanda tangan kedua orang tersebut tanpa stempel. Kertas berlogo bola dunia bernomor 7 itu digulung dan dimasukkan semacam botol dari plastik sesuai ukuran sertifikat. Sertifikat tak diserahkan langsung, namun hanya dikirim via pos ke kantor KBRI di Bern, Swiss.

Menurut Djoko, karena Dubes sebelumnya tak pernah menyinggung-nyinggung soal N7W meski sertifikat sudah dikirim, dia pun tak pernah memperhatikan sertifikat tersebut.

Dia baru berupaya mencari informasi ketika polemik muncul di Tanah Air. Yakni, ketika pihak Kemenbudpar saat itu menarik diri dari ajang N7W karena dimintai duit 10 juta dolar AS.

‘’Sejak itu saya tanya ke staf. Baru saya diberitahu ada sertifikat tersebut. Sejak itu saya intens cari informasi ke beberapa pihak atau kolega saya di Swiss. Tapi, semuanya tak ada yang tahu. Bayangkan, ajang internasional, beralamat di Zurich, Swiss, tapi orang Swiss tak tahu. Penyerahan sertifikat ini pun hanya via pos. Apa pantas itu disebut kredibel?’’ katanya.

Djoko juga sempat mengunjungi beberapa koran berpengaruh, baik yang berkantor di Zurich, Bern, maupun di kota-kota besar lainnya di Swiss. Tapi, tak satupun yang pernah memberitakan N7W.

‘’Saya malah ditanya balik, apa itu New Seven Wonder, dan siapa itu Bernard Weber,’’ sambungnya.

Puncak kecurigaan bisnis akal-akalan Bernard Weber yang membohongi pemerintah berbagai Negara itu terjadi pada akhir April 2011. Saat itu, Kemenbudpar mengirim beberapa orang dari kantor pengacara Lubis, Santosa & Maulana, milik pengacara kondang Todung Mulya Lubis untuk menyelidiki kantor yayasan N7W di Zurich.

‘’Hasilnya justru makin menguatkan bahwa yayasan N7W  tak kredibel. Sekali lagi, ini hanya kegiatan biasa yang dikemas seolah-olah ajang level dunia via internet,’’ katanya.   

Staf KBRI di Bern, jelas Djoko, membantu mencari alamat N7W. Sesuai yang tertulis, alamatnya di Hoeschgasse 8, PO Box 1212, 8034 Zurich. Tapi setelah diselidiki, ternyata kode pos tak sesuai. Seharusnya alamat itu adalah: Hoeschgasse 8 PO Box 1212, 8008 Zurich.

Alamat itu juga bukan alamat resmi N7W, melainkan museum Heidi Weber yang diarsiteki Le Corbusier. Yang janggal lagi, museum itu tak buka setiap hari. Buka hanya pada musim panas, yakni Juni, Juli, dan  Agustus, mulai pukul 14.00-17.00.

Sejak itu, Kemenbudpar secara resmi menarik diri dari kampanye keajaiban dunia versi N7W. Sejak itu pula isu kampanye N7W di Indonesia mulai reda. Namun, dia mengaku terkejut ketika tiba-tiba muncul P2K (Pendukung Pemenangan Komodo) yang diketuai tokoh LSM Emmy Hafild dengan menggandeng mantan Wapres Jusuf Kalla.

Apalagi, setelah upaya memenangkan Pulau Komodo ini dilakukan dengan menyuruh masyarakat mengirim SMS.

‘’Kalau untuk menang-menangan di yayasan yang tidak kredibel ini secara gratis sih tak masalah. Lha, ini pakai kirim SMS segala. Ada duit rakyat yang tersedot di situ. Padahal, sekali lagi, kegiatan ini hanya kreatifitas orang Swiss yang memang jago meng-create acara atau membuat event organizer,’’ jelas Djoko.   

Pulau Komodo sendiri sebenarnya sudah masuk sebagai warisan dunia pada 1991 versi UNESCO, lembaga resmi PBB yang bergerak di bidang cagar budaya. Bersama Pulau Komodo, masuk juga Taman Nasional Ujungkulon, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan.

‘’Karena reputasi UNESCO sebagai badan khusus PBB yang didirikan pada 1945 itu jauh melampaui N7W, ada baiknya kita tak terpancing aturan main N7W,’’ papar Djoko.

N7W juga dinilai tak transparan soal jumlah SMS yang masuk. Namun, Ketua Pemenangan Komodo Emmy Hafild mengatakan, transparasi itu memang sulit.

Dia sendiri tak tahu pasti berapa jumlah SMS yang masuk begitu juga dengan total voting via website New 7 Wonder. ‘’Ada aturan tak boleh menunjukkan total voting, ujarnya.

Sebab itu, kalau ada SMS yang menyebut peringkat Komodo ada di posisi dengan jumlah suara tertentu, bisa dipastikan itu palsu. Selama ini, yang bisa diketahui hanya dari penghitungan sendiri. Seperti pernah suatu waktu total SMS yang dikirim mencapai 1 juta suara dalam satu hari.

Di website N7W sendiri, memang tak ada angka-angka perolehan suara. Hanya menunjukkan perkembangan pemilihan yang mulai melemah. Hingga pukul 22.00, dukungan terhadap Komodo disebut melemah. Situs ini hanya menghitung suara dukungan melalui website, tidak SMS.

‘’Baru diketahui saat diumumkan tanggal sebelas nanti,’’ imbuhnya. Terkait ‘kampanye hitam’, dia mengatakan jika biang keroknya kemungkinan besar dari pejabat yang namanya dicoret dari tim pemenangan Komodo.

Meski tak menyebut nama, bukan rahasia jika Wakil Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Sapta Nirwandar adalah orang yang dimaksud.

Dengan nada sinis, Emmy mengatakan, tak habis pikir dengan sikap pemerintah. Termasuk rencana menggugat N7W. Aneh baginya kalau sekelas Dubes mengurus organisasi kecil. ‘’Sewa pengacara kan mahal, uang APBN lagi yang digunakan,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, daripada payah mengurus masalah legalitas yayasan yang dianggap bodong oleh pemerintah, lebih baik mendukung langkah dia. Kini, Emmy mengaku bingung cari sponsor untuk membayar lisensi SMS premium yang diturunkan jadi Rp1. ‘’Gara-gara black campaign kami sulit cari sponsor,’’ tuturnya.

Di satu sisi, dia juga enggan menyebut apa ada biaya lain yang harus dikeluarkan untuk jadi pemenang N7W. Menurutnya, tak ada lagi biaya kecuali lisensi yang olehnya tak mau disebut berapa kisarannya. ‘’Yang jelas, kami akan cari sponsor untuk bayar lisensi,’’ ucapnya.

Terpisah, Wamen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar mengaku tak habis pikir dengan Emmy. Menurutnya, aneh kalau Emmy menyebut black campaign itu akibat ulahnya yang tak bisa lagi masuk tim pemenangan Komodo. Dia menjelaskan, jika saat mendaftarkan Komodo bukan atas nama pribadi.

‘’Daftar dengan nama Kementerian Kebudayaan (dan pariwisata, red). Kami keluar karena ada yang tak bisa dipenuhi,’’ ungkapnya. Makin tahun, syarat dari yayasan N7W makin aneh-aneh saja. Termasuk menodong pemerintah bayar Rp400 miliar agar jadi tuan rumah final N7W.

Disinggung soal pihak swasta yang masih terus mempromosikan N7W juga tak dipedulikannya. Dalam arti, Kementeriannya tetap pada sikap tak berada di balik usaha pemenangan itu.

Begitu juga dengan sikap presiden yang ikut kampanye. Baginya, itu adalah sikap pribadi dan tak melambangkan perintah untuk mendukung secara institusi.

Sementara itu, duta Komodo Jusuf Kalla masih menegaskan hasratnya untuk terus mendukung pemenangan Komodo. Saat bertandang ke kampus ITS Surabaya kemarin, dia mengajak seluruh mahasiswa yang hadir untuk mengirim SMS melalui 9818.

Tujuannya, satwa langka komodo agar bisa diakui sebagai salah satu keajaiban dunia.

Menurutnya, dia bukan semata-mata mengampanyekan komodo untuk tergabung dalam seven wonder. Namun lebih dari itu. Kawasan Nusa Tenggara Timur dan Flores yang merupakan habitat komodo juga akan terdongkrak. Tentunya, jika banyak masyarakat mendukung komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

‘’NTT dan Flores juga akan maju. Secara umum, itu daerah yang tingkat ekonomi masyarakatnya masih rendah. Jadi, dengan dukungan itu wilayahnya akan terangkat. Turis akan banyak datang,’’ katanya.

Presiden New 7 Wonders Foundation Bernard Weber saat mendampingi JK di Pulau Komodo menyangkal jika pihaknya menekan pemerintah Indonesia untuk jadi tuan rumah. Paska mundurnya Indonesia dan Maladewa dari sayembara itu, Bernard mengatakan final bakal dihelat di Zurich, Swiss.

Selanjutnya, kata dia, masing-masing negara yang ditetapkan sebagai tujuh keajaiban dunia dipersilakan mengadakan resepsi syukuran masing-masing. ‘’Jika uangnya besar silakan dibuat meriah. Jika terbatas, ya diatur masing-masing negara,’’ tuturnya.(sup/dim/wan/puj/nw/jpnn)

 

 

 

sumber: RiauPos

 

Mengenai tata cara untuk memberikan dukungan melalui SMS dapat dilihat di Pengumuman.

 
Google
Web ksdasulsel
SUBSCRIPTION
Silahkan Anda memasukkan email pada kolom di bawah untuk dapat berlangganan artikel / berita terbaru dari kami :

Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan

Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 13,7

Kotak Pos 1144 Makassar 90241

Sulawesi Selatan – INDONESIA

Telp. / Fax.   : + 62 – 411 – 590371 / 590370