- Kontak Kami  |  SiteMap  |  WebMail -
Indonesian Afrikaans Arabic English French German Italian Japanese Malay Romanian Russian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian

Kamis, 15 Desember 2011
Konservasi SDAHE    |    Kebakaran Hutan    |    Keanekaragaman Hayati    |    Flora    |    Fauna    |    Konservasi Kawasan    |    Jasling & Wisata alam    |    Pengumuman

Masyarakat Bisa Ikut Menjaga Terumbu Karang Via Internet

Pada Kamis 3 November 2011, The World Wide Fund for Nature (WWF) di Indonesia, Hongkong, Malaysia, dan Filipina secara serentak meluncurkan kampanye inovatif berbasis media online "My Coral Triangle" yang mendorong komitmen individu seluruh dunia untuk “mengadopsi” spot virtual di kawasan tersebut seharga lima dolar AS, kurang lebih seharga secangkir kopi yang biasa diminum orang di kafe-kafe.

Bertempat di Kemang, Jakarta Selatan, WWF Indonesia meluncurkan kampanye “My Coral Triangle” sebagai bentuk kepedulian dan komitmen warga untuk menyelamatkan harta karun dunia. Lida Pet-Soede, yang memimpin Program Segitiga Terumbu Karang WWF mengatakan, “Kini orang yang tak bisa melakukan konservasi langsung, dapat turut serta menyelamatkan Segitiga Terumbu Karang ini.”

Kaya Keanekaragaman Hayati

Terbentang di kedalaman hamparan perairan nan biru enam negara—Malaysia, Filipina, Indonesia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon–Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), sebuah warisan bahari dunia ini bergelimang dengan keanekaragaman hayatinya.

Terpaan cahaya mentari di Khatulistiwa, suhu laut yang hangat, dan arus laut telah membentuk Segitiga Terumbu Karang sebagai tempat persemaian ikan dan spesies laut untuk bertelur dan tumbuh dewasa, sebelum mereka berkelana di seluruh dunia. Tak kurang 76 persen spesies terumbu karang dunia, enam dari tujuh spesies penyu dunia, dan 2.228 spesies ikan karang bersemayam di kawasan seluas enam juta kilometer persegi ini.

Spesies laut lainnya seperti paus, lumba-lumba, ikan duyung, hingga hiu paus si ikan terbesar di bumi turut meramaikan wilayah ini. Besar kemungkinan ikan tuna yang ditemui di pasar hingga di meja makan kita berasal dari Segitiga Terumbu Karang karena di sinilah sumber utama tuna dunia.

Namun, kini Segitiga Terumbu Karang mengalami ancaman kerapuhan mahadahsyat dari dinamika ekonomi negara-negara di sekililingnya, dan diperburuk dengan perubahan iklim. Lebih dari 120 juta orang hidup bergantung pada sumber daya kelautan di wilayah itu.

Tingginya permintaan makanan laut telah menyebabkan ikan tuna dan ikan karang lainnya ditangkap dalam jumlah besar, bahkan lebih besar daripada kemampuan ikan-ikan tersebut berkembang biak. Tak sedikit pula yang ditangkap dengan cara yang tidak lestari.

Indonesia diharapkan mempunyai peran strategis dalam mendorong suksesnya upaya konservasi di Segitiga Terumbu Karang mengingat kawasan perairan Indonesia adalah yang terluas di perairan lintas negara tersebut. “Semua bermula dari Indonesia,” ungkap Lida Pet-Soede sambil menunjuk peta wilayah negara ini, “Namun, hasilnya tidak hanya penting bagi Indonesia, melainkan juga dunia.” (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
.
 
Google
Web ksdasulsel
SUBSCRIPTION
Silahkan Anda memasukkan email pada kolom di bawah untuk dapat berlangganan artikel / berita terbaru dari kami :

Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan

Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 13,7

Kotak Pos 1144 Makassar 90241

Sulawesi Selatan – INDONESIA

Telp. / Fax.   : + 62 – 411 – 590371 / 590370